Monday, February 28, 2022

SHALAT MALAM

Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.

Menegakkan Shalat malam atau tahajud atau tarawih dan shalat witir di bulan Ramadhan merupakan amalan yang sunnah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadhan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قاَمَ رَمَضَانَ إِيـْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266)

Pada asalnya shalat sunnah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:

« صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)

Maka jika ada dalil lain yang shahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang shahih tersebut. Adapun jumlah rakaat shalat malam atau shalat tahajud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat.

Shalat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjamaah di masjid karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rahimahullah, ia berkata:

“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadhan sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al-Hakim, Shahih)

Beserta sebuah Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:

« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »

“Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ‘sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Hadits itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa shalat berjamaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan shalat sendirian semalam suntuk. Hadits tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya shalat malam dengan berjamaah.

Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk shalat tarawih secara berjamaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.

Tata Cara Shalat Malam

Perlu kita ketahui bahwa tata cara shalat malam atau tarawih dan shalat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadits. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunnah.

Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunnah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunnah dan mematikan sunnah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.

Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.
  3. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.
  4. Kemudian shalat witir 1 rakaat.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)

Faedah, Hadits ini menjadi dalil bolehnya shalat iftitah 2 rakaat sebelum shalat tarawih.

Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  2. Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.

Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”

Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  2. Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya’ – Manusia menyebutnya shalat Atamah – hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)

Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.
  2. Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)

Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada shalat tarawih maupun shalat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai shalat maghrib.

Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat langsung sembilan rakaat yaitu shalat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ (رواه مسلم)

“Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, pujian kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu’, mutawatir)

Faedah, Hadits ini merupakan dalil atas:

  1. Bolehnya shalat lagi setelah shalat witir.
  2. Terkadang Nabi shalat witir terlebih dahulu baru melaksanakan shalat genap.
  3. Bolehnya berdoa ketika duduk tasyahud awal.
  4. Bolehnya shalat malam dengan duduk meski tanpa uzur.

Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang baik dalam berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  2. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  3. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  4. Setelah bangun shalat witir 3 rakaat.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

…ثُمَّ قَامَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيْهْمَا الْقِيَامَ وَ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَغَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ سِتُّ رَكَعَاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يَشْتاَكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يَقْرَأُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ

“…Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat 2 rakaat maka beliau memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya dalam 2 rakaat tersebut, kemudian setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring sampai mendengkur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat. Dan setiap kali hendak melakukan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak kemudian berwudhu terus membaca ayat (Inna fii kholqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili… sampai akhir surat) kemudian berwitir 3 rakaat.” (HR. Muslim)

Faedah, Hadits ini juga menjadi dalil kalau tidur membatalkan wudhu

Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat langsung 7 rakaat yaitu shalat langsung 6 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke-6 tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam. Maka sudah shalat 7 rakaat.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah yang merupakan kelanjutan hadits no.5 beliau berkata: “Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tua dan mulai kurus maka beliau melakukan shalat malam atau tarawih 7 rakaat. Dan beliau melakukan shalat 2 rakaat yang terakhir sebagaimana yang beliau melakukannya pada tata cara yang pertama (dengan duduk). Sehingga jumlah seluruhnya 9 rakaat.” (HR. Muslim 1233)

Disunnahkan pada shalat witir membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat yang kedua dan membaca surat al-Falaq atau an-Naas pada rakaat yang ketiga. Atau membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Kafirun pada rakaat yang kedua dan membaca al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga.

Tata cara tersebut di atas semua benar. Boleh melakukan shalat malam atau tahajud atau tarawih dan witir dengan cara yang dia sukai, tetapi yang lebih afdhol adalah mengerjakan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti. Karena bila hanya memilih satu cara berarti menghidupkan satu sunnah tetapi mematikan sunnah yang lainnya. Bila melakukan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti berarti telah menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin.

Adapun pada zaman Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat dan 23 rakaat. Kemudian 39 rakaat pada zaman khulafaur rosyidin setelah Umar radhiyallahu ‘anhu tetapi hal ini khusus di Madinah. Hal ini bukanlah bid’ah (sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk adanya bid’ah hasanah) karena para sahabat memiliki dalil untuk melakukan hal ini (shalat tarawih lebih dari 13 rakaat). Dalil tersebut telah disebutkan di atas ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Pada hadits tersebut jelas tidak disebutkan adanya batasan rakaat pada shalat malam baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Batasannya adalah datangnya waktu subuh maka diperintahkan untuk menutup shalat malam dengan witir.

Para ulama berbeda sikap dalam menanggapi perbedaan jumlah rakaat tersebut. Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat tersebut dengan metode al-Jam’u bukan metode at-Tarjih (Metode tarjih adalah memilih dan memakai riwayat yang shahih serta meninggalkan riwayat yang lain atau dengan kata lain memilih satu pendapat dan meninggalkan pendapat yang lain. Hal ini dipakai oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat ini. Metode al-Jam’u adalah menggabungkan yaitu memakai semua riwayat tanpa meninggalkan dan memilih satu riwayat tertentu. Metode ini dipilih oleh jumhur ulama dalam permasalahan ini). Berikut ini beberapa komentar ulama yang menggunakan metode penggabungan (al-Jam’u) tentang perbedaan jumlah rakaat tersebut:

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ia boleh shalat 20 rakaat sebagaimana yang masyhur dalam mazhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam mazhab Malik. Boleh shalat 11 dan 13 rakaat. Semuanya baik, jadi banyak atau sedikitnya rakaat tergantung lamanya bacaan atau pendeknya.” (Majmu’ al-Fatawa 23/113)
  • Ath-Thartusi berkata: “Para sahabat kami (malikiyyah) menjawab dengan jawaban yang benar, yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Pada rakaat pertama imam membaca 200 ayat karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak kuat lagi menanggung hal itu maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat. Maka mereka membaca surat Al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat.”
  • Imam Malik rahimahullah berkata: “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan Umar yaitu 11 rakaat itulah cara shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun 11 dekat dengan 13.
  • Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz berkata: “Sebagian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sebagian lain mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini semua adalah persangkaan yang tidak pada tempatnya, BAHKAN SALAH. Bertentangan dengan hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa shalat malam itu muwassa’ (leluasa, lentur, fleksibel). Tidak ada batasan tertentu yang kaku yang tidak boleh dilanggar.”

Adapun kaum muslimin akhir jaman di saat ini khususnya di Indonesia adalah umat yang paling lemah. Kita shalat 11 rakaat (Paling sedikit) dengan bacaan yang pendek dan ada yang shalat 23 rakaat dengan bacaan pendek bahkan tanpa tu’maninah sama sekali!!!

Doa Qunut dalam Shalat Witir

Doa qunut nafilah yakni doa qunut dalam shalat witir termasuk amalan sunnah yang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahuinya banyak kaum muslimin yang membid’ahkan imam yang membaca doa qunut witir. Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)

يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ

“Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud dan An-Nasa’i dalam kitab Sunanul Qubro, Ahmad, Thobroni, Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad shahih)

Adapun doa qunut tersebut dilakukan setelah ruku’ atau boleh juga sebelum ruku’. Doa tersebut dibaca keras oleh imam dan diaminkan oleh para makmumnya. Dan boleh mengangkat tangan ketika membaca doa qunut tersebut.

Di antara doa qunut witir yang disyariatkan adalah:

« الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ »

Maraji’:

  1. Shohih Muslim
  2. Qiyaamur Ramadhan li Syaikh Al-Albanyrahimahullah
  3. Sifat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  4. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  5. Majalah As-Sunnah Edisi 07/1424H/2003M
  6. Tata Cara Shalat Malam Nabi oleh Ustadz Arif Syarifuddin, Lc.

Timika, 3 Ramadhan 1428 H

Kumpulan artikel fikih shalat atau sifat shalat Nabi silakan simak Kumpulan Artikel Fikih Shalat Sesuai Sunnah Nabi

***

Penulis: R. Handanawirya (Alumni Ma’had Ilmi)
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar



Sumber: https://muslim.or.id/111-tata-cara-shalat-malam-dan-witir-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Tuesday, February 15, 2022

 

Berdoa dengan Al Asmaa ul Husna

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اللهم صل على محمد وآل محمد

 

.

Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya ini mempunyai nama-nama yang banyak. Nama-nama itu bukan hanya sekadar nama, tetapi nama-nama yang bagus lagi indah yang sesuai dengan penyataan yang diberikan. Nama itu disebut “Al Asmaaul Husna”. Terdapat 99 yang apabila disebut nama itu akan mempunyai pengaruh dan manfaat yang besar dan hebat sekali terhadap pekerjaan yang sedang kita lakukan dan juga bagi orang yang telah melakukan sesuatu tugas itu. Maka kita dianjur dan digalakkan untuk berdoa dengan “Al Asmaa’ul Husna” tersebut. .

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bagi Allah itu nama-nama yang Indah/Baik, berdoalah dengannya (dengan menyebut nama-nama yang baik itu – Asma ul-Husna).”   Surah al-A’raf 7:180 .

Berikut adalah doa-doa daripada Asmaa’ul Husna, iaitu doa-doa yang diawali dengan nama nama Allah yang baik. Allah SWT telah menggalakkan agar hamba-Nya berdoa dengan menggunakan nama-nama-Nya, kerana dengan nama-nama tersebut doa itu akan lebih mudah dikabulkan. .

Apabila seorang hamba berdoa dengan menggunakan “Asmaa’ul Husna”, Allah SWT akan merasa senang hati untuk memakbulkan permintaan hamba-Nya itu. Maka janganlah kita lepaskan peluang yang baik ini. Kita boleh gunakan kesemua 99 nama Allah atau kita boleh memilih mana-mana nama Allah yang sesuai dengan doa yang akan diminta..

Alhamdulillahi rabbil a’lamin, Allahuma solli a’la Muhammad wa a’laa aalihi wa ashaabihi ajamaiin..

Ya Allah! Dengan menadahkan tangan-tangan kami ini kepada-Mu, kami mengharapkan Rahmat-Mu; Sesungguhnya Rahmat-Mu adalah luas dan meluasi segala sesuatu.

Ya Allah! Kami beriman kepada-Mu, kewujudan-Mu dan Kebesaran-Mu; Dikaulah Yang Maha Agung dan Maha segala-galanya..

1.  Ya Allah! Ya Rahman, Ya Rahim, Dikaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasihanilah kami ya Allah, kami sangat-sangat mengharapkan belas kasihan daripada-Mu ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan kasih sayang yang sebenarnya melainkan hanya Dikau. Segala kasih sayang yang pernah kami harapkan daripada selain-Mu, ternyata selalu menghampakan kami ya Allah.

2.  Ya Allah! Ya Malik, Raja kepada segala raja, kepimpinan-Mu adalah yang terbaik dan akan membawa kepada kebaikan, tidak ada yang lebih baik kepimpinannya melainkan hanya Dikau. Kami redha menjadikan-Mu sebagai Pemimpin kami, yang lebih berhak dipatuhi daripada segala pemimpin yang lain.

3.  Ya Allah! Ya Quddus, yang Maha Suci, Dikaulah Tuhan yang bersih daripada segala kelemahan, menyembuh dan mentaati hanya kepada-Mu tidak akan merugikan kami. Sesungguhnya segala pengharapan yang dicurahkan kepada selain Dikau selalu mengecewakan; Kami redha mempertuhankan Dikau Zat yang Maha suci.

4.  Ya Allah! Ya Salam, yang Maha Selamat, berikanlah keselamatan kepada kami dan ahli keluarga kami. Peliharalah kami semua daripada segala macam kejahatan dan keburukan. Selamatkanlah kami dengan kebesaran nama-Mu ini daripada segala bencana dunia dan akhirat.

5.  Ya Allah! Ya Mukmin, yang Maha Aman, amankanlah kami daripada segala yang kami takuti. Amankanlah ahli keluarga kami daripada segala sengketa, amankanlah kejiranan kami, amankanlah kawasan kami dan amankanlah negara kami daripada segala kejahatan dan keburukan. Kami sedar bahawa, tidak ada nikmat yang lebih baik daripada hidup dalam keadaan aman sentosa, rukun dan damai.

6.  Ya Allah! Ya Muhaimin, yang Maha Memelihara, peliharalah kami daripada segala yang tidak kami kehendaki. Peliharalah kami daripada segala yang keji, peliharalah kami daripada segala penyakit dan iri, peliharalah kami daripada hasad dan dengki. Sesungguhnya sesiapa yang dipelihara oleh-Mu akan selamatlah daripada segala yang tidak baik.

7.  Ya Allah! Ya Aziz, yang Maha Mulia, Dikaulah yang termulia, agama-Mu adalah mulia, Nabi-Mu adalah mulia, kitab-Mu adalah mulia, maka masukkanlah kami di kalangan yang mulia.

8.  Ya Allah! Ya Jabbar, yang Maha Perkasa bantulah kami yang lemah ini, mengatasi segala muslihat mereka yang memusuhi kami. Berikanlah kekuatan-Mu kepada kami.

9.  Ya Allah! Ya Mutakabbir, yang Maha Megah, Dikaulah berhak untuk memiliki sifat ini, kerana tidak ada yang lebih hebat daripada Dikau, maka jauhkanlah kami daripada sifat bermegah-megah hingga menyebabkan kami berhak menerima kemurkaan-Mu.

10.  Ya Allah! Ya Khaliq, yang Maha Pencipta, ciptakanlah untuk kami yang terbaik, ciptakanlah zuriat yang baik untuk kami, kami mahukan seorang anak lelaki/perempuan atau cukuplah sudah anak-anak yang telah Dikau berikan kepada kami. (mintalah mengikut apa yang kita perlukan). Ciptakanlah kesempurnaan pada diri kami.

11.  Ya Allah! Ya Bari’, Yang Maha Pembuat, buatkanlah untuk kami apa sahaja yang baik untuk kami dunia dan akhirat dan jauhkan daripada kami segala apa yang akan membinasakan kami.

12.  Ya Allah! Ya Mushawwir, yang Maha Pembentuk, bentuklah untuk kami apa yang kami kehendaki, bentuklah untuk kami zuriat lelaki/perempuan, kembalikanlah kesempurnaan kami, hanya Dikau sahaja yang berkuasa untuk membentuk dan mengubah segala bentuk.

13.  Ya Allah! Ya Ghaffar, kami meminta keampunan-Mu, ampunilah kami ya Allah, seandainya Dikau tidak mengampunkan kami, pastilah kami akan sengsara dunia dan akhirat.

14.  Ya Allah! Ya Qahhaar, yang Maha Pemaksa, kasihanilah kami, dan jangan Dikau paksa kami melakukan sesuatu yang kami tidak mampu melakukannya, janganlah Dikau paksakan kepada kami ujian yang terlalu berat untuk kami, sebaliknya Dikau paksalah mereka, fulan bin fulan (sebut nama-nama) atau sesiapa sahaja untuk menerima kami dan apa-apa daripada kami. Dikaulah maha segala-galanya, dan paksakanlah musuh-musuh kami untuk melakukan sesuatu yang baik untuk kami.

15.  Ya Allah! Ya Wahhab, wahai Tuhan yang Maha Pemberi, berikanlah kepada kami apa sahaja yang kami perlukan, (sebutkan apa yang diperlukan), sesungguhnya apa yang Dikau berikan, tidak ada siapa yang dapat menghalang, dan apa sahaja yang tidak Dikau berikan, tidak ada siapa yang dapat memberinya.

16.  Ya Allah! Ya Razzaq, wahai Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki, berikanlah kepada kami rezeki-Mu yang banyak, cukukanlah keperluan kami, cukupkanlah keperluan anak-anak kami, cukupkanlah keperluan ahli keluarga kami, janganlah sampai kami terpaksa meminta-minta akibat daripada kekurangan rezeki.

17.  Ya Allah! Ya Fattaah, wahai Tuhan yang Maha Pembuka, bukakanlah untuk kami kejayaan dalam apa jua usaha kami, bukakanlah pintu kefahaman kami, bukakanlah segala kesusahan dan kesukaran kami.

18.  Ya Allah! Ya A’liim, wahai Tuhan yang Maha Mengetahui, Dikau mengetahui sesuatu yang kami tidak ketahui, Dikau ketahui apa yang ada di dalam hati-hati hamba-hamba-Mu, berikanlah kepada kami apa yang Dikau ketahui baik untuk kami dunia dan akhirat, jauhkanlah dari kami apa-apa yang Dikau ketahui tidak baik untuk kami dunia dan juga akhirat.

19.  Ya Allah! Ya Qaabidh, wahai Tuhan yang Maha Pencabut, cabutlah segala keburukan yang ada pada kami, dan janganlah Dikau cabut nikmat yang Dikau telah berikan kepada kami lantaran daripada kelalaian dan kesilapan kami, sesungguhnya akan binasalah kami tanpa nikmat daripada-Mu. Sebaliknya Dikau cabutkan sahaja kekuasaan yang ada pada musuh kami .

20.  Ya Allah! Ya Baasith, wahai Tuhan yang Maha Meluas, kuasa-Mu adalah luas, nikmat-Mu adalah luas, Rahmat-mu adalah luas, segala-gala kepunyaan-Mu adalah luas, luaskan Rahmat-Mu kepada kami, luaskan pemberian-Mu kepada kami, luaskanlah pemeliharaan-Mu kepada kami.

21. Ya Allah! Ya Khaafidh, wahai Tuhan yang Maha Menjatuhkan, Dikau akan menjatuhkan siapa yang Dikau kehendaki, maka jatuhkan mereka yang memusuhi kami, jatuhkanlah mereka yang berniat mengkhianati kami, Dikaulah maha segala-galanya dan kami tidak ada kuasa dan upaya.

22.  Ya Allah! Ya Rafi’, wahai Tuhan yang Maha Mengangkat, angkatlah darjat kami disisi-Mu, angkatlah darjat kami di dunia dan juga di akirat. Angkatlah darjat kami di sisi mereka yang menghina kami.

23. Ya Allah! Ya Mu’iz, wahai Tuhan yang Maha Memuliakan, Dikau memuliakan sesiapa yang Dikau kehendaki, maka muliakanlah kami di dunia dan akhirat, muliakanlah kami di sisi mereka yang memandang rendah kepada kami. Kalau tidak kepada-Mu, kepada siap lagi hendak kami berserah diri.

24. Ya Allah! Ya Mudzil, wahai Tuhan yang Maha Penghina, tidak akan mulia orang yang Dikau hina dan tidak akan hina orang yang Dikau muliakan, maka kepada Dikaulah tempat kami menaruh pengharapan kami; Sesungguhnya Dikau tidak akan mensia-siakan kami, janganlah Dikau masukkan kami di kalangan mereka yang hina.

25. Ya Allah! Ya Sami’, wahai Tuhan yang Maha Mendengar, dengarkan segala rintihan kami, dengarlah segala doa dan permintaan kami, janganlah Dikau palingkan diri-Mu daripada kami, lantaran daripada kederhakaan kami, ampunilah kami.

26. Ya Allah! Ya Basir, wahai Tuhan Maha melihat, Dikau melihat siang dan malam, Dikau melihat gelap dan terang, kepada-Mulah kami menyerahkan diri kami, kami lemah tanpa penglihatan-Mu, Dikau dengarkanlah untuk kami apa yang baik untuk kami, Dikau lihatkan untuk kami apa sahaja yang baik untuk kami, siang dan malam, gelap dan terang.

27.  Ya Allah! Ya Hakam, wahai Tuhan yang Maha Penentu Hukum, segala hukum-hukum-Mu adalah yang paling adil, hukumkan yang baik untuk kami, dan hukumkanlah yang sebaliknya untuk mereka yang berniat jahat kepada kami. Dikaulah yang Maha Menghukum, dan hukuman-mu adalah dahsyat, jauhkanlah kami daripada mendapatkan hukuman yang buruk daripada-Mu.

28. Ya Allah! Ya A’dl, wahai Tuhan yang Maha Adil, tidak ada yang lebih Adil daripada-Mu, kepada Keadilan-Mu kami beriman, jadikanlah kami orang yang adil, jadikanlah kami ibu/bapa yang adil, jadikanlah kami di kalangan mereka yang sentiasa bersikap adil.

29. Ya Allah! Ya Latif, wahai Tuhan yang Maha Lembut, lembutkanlah kami, lembutkanlah hati kami, lembutkanlah hati fulan bin fulan (sebutkan nama) terhadap kami.

30. Ya Allah! Ya Khabir, wahai Tuhan yang Maha Berwaspada, kewaspadaan-Mu mencakupi segala perkara, peliharalah kami daripada segala mala petaka.

31.  Ya Allah! Ya Halim, wahai Tuhan yang Maha Penyantun, layanilah kami dengan kesantunan-Mu, kami berlindung diri dengan-Mu daripada segala kekerasan-Mu.

32. Ya Allah! Ya A’zim, wahai Tuhan yang Maha Agung, Dikaulah yang paling agung, tidak ada yang lebih agung daripada-Mu, bantulah kami daripada segala pemimpin dan penguasa yang zalim, Dikaulah maha segala-galanya.

33. Ya Allah! Ya Ghafur, wahai Tuhan yang Maha Pengampun, ampunkanlah segala kesalahan dan kesilapan kami, tukarkan kejahatan kami yang lalu dengan kebaikan. Hapuskanlah segala dosa-dosa kami, Kami berharap agar dapat mati dengan keadaan tiada dosa ya Allah, sesungguhnya azab-Mu menanti mereka yang berdosa.

34. Ya Allah! Ya Syakur, wahai Tuhan yang Maha Menghargai segala amalan kebaikan hamba-Nya, tatkala manusia tidak menghargai segala usaha kebaikan kami kepada mereka, maka Dikau hargailah segala kebaikan amalan kami, Dikaulah yang mengetahui akan kesungguhan kami, janganlah Dikau sia-siakan segala amalan kami, kami sedar amalan kami terlalu banyak cacat dan kekurangannya, maka dengan nama-Mu ini kami bermohon semoga Dikau terima segala amalan-amalan kami.

35. Ya Allah! Ya A’liy, wahai Tuhan Maha Tinggi, tiada yang lebih tinggi kedudukannya melainkan hanya Dikau, maka tinggikanlah juga kami dalam penghidupan ini dan janganlah Dikau merendahkan kami.

36. Ya Allah! Ya Kabir, wahai Tuhan yang Maha Besar, tiada yang memiliki kebesaran selain Dikau, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang akan sentiasa membesarkan-Mu, janganlah Dikau jadikan kami di kalangan mereka yang membesarkan penghidupan dunia, membesarkan harta, membesarkan kedudukan dan pangkat, membesarkan manusia. Kami sedar sikap sedemikian hanya akan menyebabkan Dikau murka, maka jauhkanlah kami daripada segala yang menyebabkan kemurkaan-Mu.

37.  Ya Allah! Ya Hafiz, wahai Tuhan yang Maha Memelihara, peliharalah kami semua, peliharalah anak-anak kami daripada segala bencana keburukan, peliharalah kesemua ahli keluarga dan mereka yang kami sayangi daripada segala yang tidak diingini, bencana, wabak, penyakit, kemiskinan, perangai dan lain-lain keburukan.

38. Ya Allah! Ya Muqith, wahai Tuhan yang Maha Menepati Waktu, tiada yang lebih daripada-Mu, setiap ciptaan-Mu telah Dikau berikan tempoh dan masa, berikanlah kami waktu yang membolehkan kami berbakti kepada-Mu, sebaliknya Dikau matikan kami bilamana Dikau ketahui dengan waktu itu kami hanya akan menjauhi-Mu.

39. Ya Allah! Ya Hasib, wahai Tuhan yang Maha Penghitung, tiada siapa yang lebih tepat dan cepat menghitung daripada-Mu, dengan keimanan kami terhadap nama dan sifat-Mu ini, maka berilah perhitungan yang baik kepada amalan baik kami dan janganlah Dikau ambil kira keburukan dan kejahatan kami, ampunkanlah segala kesalahan kami yang lalu.

40. Ya Allah! Ya Jalil, wahai Tuhan yang memiliki sifat Keagungan, tiada yang lebih agung daripada-Mu, terimalah pengakuan ikhlas kami ini dan tetapkanlah kami dalam keimanan ini, bahawa tiada yang lebih agung dalam kehidupan kami melainkan Dikau.

41.  Ya Allah! Ya Karim, wahai Tuhan yang Maha Mulia, tiada yang lebih mulia daripada-Mu, maka muliakan kami yang beriman kepada kemuliaan-Mu, hinakanlah mereka yang tidak beriman kepada kemuliaan-Mu.

42. Ya Allah! Ya Raqib, wahai Tuhan yang Maha mengawas, pengawasan-Mu mencakupi setiap pelusuk alam ini, tiada satu pun yang terluput daripada pemerhatian-Mu, maka berikanlah pengawasan-Mu kepada kami, perhatikanlah anak-anak kami, ahli keluarga kami, harta benda kami semasa ketiadaan kami.

43. Ya Allah! Ya Mujib, wahai Tuhan yang Maha Memperkenankandoa, perkenanlah segala permintaan kami, janganlah Dikau biarkan tangan-tangan yang menadah ini dalam keadaan kosong dan sia-sia, kasihanilah kami, cukupkanlah segala keperluan kami, jauhkan kami daripada keterpaksaan meminta dan mengemis, hanya kepada-Mulah tempat kami meminta.

44. Ya Allah! Ya Wasi’, wahai Tuhan yang Maha Luas, kurniaan-Mu adalah luas, Rahmat-Mu juga adalah luas, maka luaskanlah kurniaan dan rahmat-Mu kepada kami.

45. Ya Allah! Ya Hakim, wahai Tuhan yang Maha Bijaksana, tiada yang lebih bijak daripada-Mu, kebijaksanaan-Mu meliputi ciptaan-Mu dan segala hukum penetapan-Mu, maka dengan keimanan kami terhadap kebijaksanaan_mu ini, berikanlah kebaikan daripadanya jadikanlah kami di kalangan mereka yang sentiasa menyanjungi ciptaandari hukum-hukum-Mu, termasuk juga hukum syariat-Mu, janganlah Dikau jadikan hati dan pemikiran kami meremehkan hokum-hukum-Mu.

46. Ya Allah! Ya Waduud, Dikaulah Tuhan yang Maha Menyintai, cinta-Mu adalah hakiki, cinta-Mu adalah sejati, maka cintailah kami, teruskan menyintai kami dan jadikanlah kami di kalangan hamba-Mu yang menyintai-Mu, menyintai Nabi utusan-Mu, menyintai kitab-Mu, meyintai agama-Mu dan menyintai segala orang yang Dikau cintai. Jadikanlah harti kami benci kepada segala yang Dikau benci.

47.  Ya Allah! Ya Majiid, Dikaulah yang Maha Pemurah, murahkanlah kurniaan-Mu kepada kami, murahkan rezeki-Mu kepada kami.

48. Ya Allah! Ya Baa’ith, Tuhan yang Membangkitkan, kami beriman bahawasanya Dikau akan bangkitkan kami sesudah mati nanti, bangkitkanlah kami dalam kebaikan dan bersama orang-orang yang baik, bangkitkanlah kami untuk mendapatkan kebaikan, kemuliaan dan keindahan syurga-Mu. Janganlah Dikau bangkitkan kami dalam keadaan dosa yang tidak terampun, ingatkanlah kami kepada hari pembangkitan-Mu, janganlah Dikau lalaikan kami daripadanya.

,

Ya Allah! Ya Tuhan kami, dengan menggunakan sebahagian daripada nama-nama-Mu yang baik ini, kabulkanlah permintaan kami. Dikau telah menjanjikan akan mengkabulkan permintaan mereka yang berdoa dengan menggunakan nama-nama-Mu. Kabulkanlah permintaan kami ya Allah, janganlah Dikau sia-siakan doa kami ini.

Kami beriman kepada-Mu, beriman kepada nama-nama-Mu, dan beriman kepada sifat-sifat-Mu yang agung. Tiada Tuhan melainkan hanya Dikau, tiada yang berkuasa melainkan hanya Dikau.

Wa solallaahu a’laa nabiyyikal karim wa a’laa aalihi wasohbihi ajmain, wal hamdulillahi rabbil a’lamin.

Sunday, February 13, 2022

 STANDARD KOMPETENSI GURU

Konsep Kompetensi

Kompetensi merujuk kepada pengetahuan, kemahiran, dan ciri-ciri peribadi atau personality
traits yang perlu bagi melaksanakan sesuatu tugas atau tanggungjawab. Menurut Kamus
Dwibahasa Dewan, kompetensi adalah istilah bahasa Inggeris iaitu competence yang
bermaksud kelayakan, kemampuan, kesanggupan, dan kecekapan untuk melakukan sesuatu
tugas (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1999)

Menurut Daud Ibrahim(2003) bahawa, kompetensi bermakna “competence,
proficiency, skillful and skill”. Kompetensi ditakrifkan sebagai gabungan aspek pengetahuan,
kemahiran dan ciri-ciri peribadi yang perlu dimiliki serta diamalkan bagi melaksanakan
sesuatu pekerjaan atau jawatan. Prinsip asas model kompetensi adalah bahawa prestasi
seseorang pegawai perkhidmatan awam akan meningkat sekiranya beliau mempunyai semua
kompetensi yang diperlukan bagi menjalankan tugas dan tanggungjawab jawatan yang
disandangnya. Sebagai contoh, pengkhususan dalam sesuatu bidang dan kekerapan
melaksanakan sesuatu tugas yang akan membolehkan pegawai melaksanakan tugasnya
dengan berkesan dan cemerlang. Agus Darma (2003), mentakrifkan kompetensi sebagai
kemampuan atau kecekapan yang diperlihatkan seseorang ketika melakukan sesuatu.
Kesimpulannya kompetensi bolehlah didefinisikan sebagai;

Definisi Umum

Merupakan keupayaan seseorang untuk mencapai matlamat interaktif, dalam
konteks sosial yang khusus, dengan menggunakan cara yang diterima dan
menghasilkan natijah yang positif dengan memberikan signifikan kepada 
unsur yang lain. Kecekapan atau kompetensi (competency) bolehlah
didefinisikan sebagai kebolehan seseorang mengeluarkan sesuatu hasil yang
telah dipersetujui bersama melalui terma-terma yang telah ditentukan tahap
pengukurannya.

Definisi khusus

Merupakan satu ukuran yang telah ditetapkan bagi seorang guru dalam
menguasai pelbagai peringkat kompetensi yang diperlukan untuk memenuhi
aspirasi pelajar dan masyarakat.

Definisi Guru

Guru dalam konteks tajuk tugasan ini bermaksud ialah tenaga pengajar yang telah mengikuti
sijil perguruan, diploma pendidikan dan ijazah dari maktab-maktab dan universiti, dilantik
oleh KPM untuk berkhidmat di sekolah. Kategori guru meliputi bakal guru, guru permulaan,
guru dan pentadbir sekolah (termasuk pengetua dan guru penolong kanan). Bakal guru pula
ialah seseorang individu yang sedang mengikuti latihan perguruan di peringkat diploma dan
ijazah pertama. Guru permulaan ialah guru yang telah mengikuti latihan perguruan dalam
mana-mana peringkat pengajian dan telah berkhidmat dalam jangka masa enam bulan hingga
satu tahun.

Konsep Kompetensi Guru

Standard profesional perguruan boleh digunakan sebagai satu set kriteria dari kompetensi
minimum yang ditunjukkan dalam perlaksanaan kerja guru. Kompetensi guru termasuklah
perkara yang berkaitan personal, profesional dan sosial seperti pengajaran, kepakaran dalam
subjek, kepakaran dalam teori yang berkaitan dengan pengajaran dan pembelajaran,
menguruskan proses pembelajaran, adaptasi dalam komuniti dan personaliti. Beare (2001)
mengenal pasti kompetensi minimum bagi guru terhadap lima komponen yang sepatutnya
kompeten. Lima komponen itu ialah kurikulum, pedagogi, penilaian, sumbangan kepada
sekolah dan sumbangan kepada profesion.

1. Kurikulum. Guru sepatutnya mempunyai pengetahuan tentang isi kandungan kursus
yang diajar (kepakaran subjek) dan ianya dikemas kini.
2. Pedagogi. Guru mestilah tahu mengajar, menguruskan kelas menggunakan mod
pembelajaran dan kaedah pengajaran yang sesuai dan teknologi pengajaran yang
sesuai.
3. Penilaian. Guru seharusnya tahu untuk menilai hasil kerja pelajar, bagaimana menilai
kemajuan pelajar, bagaimana melaporkan kemajuan kepada pelajar dan ibu bapa,
bagaimana menyimpan rekod kemajuan pembelajaran dan bagaimana menetapkan
tahap kemajuan.
4. Sumbangan kepada sekolah. Sebagai staf institusi pelajaran, setiap guru seharusnya
memberi sumbangan yang kontruktif kepada sekolah secara meluas, menerima
tanggungjawab fungsi yang luas kepada sekolah secara formal, secara tidak formal
mengambil berat terhadap tugas dan budaya, mempunyai pelajar yang baik, reputasi
dan pendirian komuniti serta hubungan ibu bapa dan seluruh komuniti.
5. Sumbangan profesional. Setiap guru diharapkan dapat mengamalkan profesion
pergurun dengan menyertai perkembangan profesional, aktif dalam aktiviti 
profesional, menyumbangkan pembangunan dalam profesion perguruan dan asas
kemahiran dan bersedia untuk membantu rakan secara profesional. Guru sepatutnya
berfikir dan berkelakuan sebagai profesional.

Perkara asas bagi menggariskan standard guru profesional ialah apa yang perlu diketahui
dan boleh dilakukan. Formula asas kebolehan guru perlu ditunjukkan dalam bidang
berikut: penilaian, komunikasi, pembaikan berterusan, pemikiran kritikal, kepelbagaian,
etika, perkembangan insan dan pembelajaran, pengetahuan mengenai subjek, suasana
pembelajaran, perancangan dan peranan guru dan teknologi.

RUMUSAN

Bertepatan dengan misi Kementerian Pelajaran Malaysia untuk membangunkan sistem
pendidikan yang berkualiti dan bertaraf dunia, maka tumpuan kepada usaha meningkatkan
mutu profesion perguruan adalah amat relevan sekali. Meskipun setakat ini sudah banyak
usaha-usaha gigih yang dijalankan ke arah itu seperti mengadakan kursus-kursus dalam
perkhidmatan, mengetatkan proses pengambilan bakal guru namun seperkara yang perlu
diambilkira ialah mewujudkan satu standard kompetensi untuk para guru. Sehingga kini
belum ada satu standard kompetensi yang digunapakai bagi menilai kecekapan dan tahap
pencapaian guru. Penilaian tahap kecekapan yang diambil oleh para guru nampaknya masih
belum dapat diterima secara keseluruhan sebagai satu mekanisme yang objektif dalam menilai
pencapaian guru.

Kebanyakan negara-negara maju telahpun memperkenalkan dan melaksanakan standard
kompetensi guru seperti United Kingdom, Jepun, Australia dan banyak lagi. Banyak manfaat
dapat diraih dengan adanya satu standard kompetensi guru. Ianya bukan sahaja dapat menilai
guru dengan lebih objektif malahan dapat digunakan oleh guru sendiri sebagai penanda aras 
untuk melihat kemajuan atau pencapaian peribadi. Standard kompetensi sepertimana yang
dicadangkan adalah bersifat dinamik tanpa mengambilkira tempoh perkhidmatan. Guru yang
cepat belajar dan mampu menyesuaikan diri dengan iklim pendidikan negara harus diberikan
lebih ruang untuk terus maju dalam profesion mereka. Standard kompetensi tersebut juga
mengambilkira cabaran masa kini untuk membangunkan generasi pelajar bagi menghadapi
dan menangani cabaran-cabaran baru terutama tuntutan-tuntutan sebagai "knowledge
worker" dalam era revolusi informasi abad ke-21.

Oleh itu, sewajarnya pembentukan dan implementasi satu standard kompetensi guru
diambil perhatian serius oleh semua pihak yang terlibat. Pihak Kementerian Pelajaran
Malaysia khususnya telahpun mengenal pasti aspek sebenar standard kompetensi yang patut
ada pada setiap guru dalam apa jua peringkat dan seterusnya menyebarluaskan maklumat
tersebut kepada semua peringkat pengurusan pendidikan. Namun demikian, sejauh manakah
Standard Guru Malaysia itu sedang dilaksanakan dengan sepenuhnya oleh Kementerian
Pelajaran Malaysia masih menjadi tanda tanya. Manakala guru pula perlulah sedar dan tahu
aspek kompetensi yang telah dan belum dicapai bagi tujuan memperkembangkan dan
meningkatkan aspek yang tidak kompeten. Seterusnya standard kompetensi mampu menjadi
pemangkin untuk kembali memartabatkan profesion perguruan dan meletakkannya sebaris
dengan profesion-profesion lain. Adalah diharapkan agar dalam pelaksanaan Pelan
Pembangunan Pendidikan Malaysia 2013-2025, Transformasi Keguruan Sebagai
Profesion Pilihan yang mengamalkan Standard Guru Malaysia menjadi kenyataan dalam
erti kata yang sebenarnya.