Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, April 10, 2011

understand women.


It has been a well accepted fact that men are basically clueless to whatever it is that attracts women. In fact, some reports contend that women are so hard to comprehend that even if men master how to decode their body language, still, they just could not understand women, in one way or another.

According to some studies, 3 out of 10 men are can attest that they really understand women.

The remaining 7, you ask? They are out in the haystack finding needles. This means that almost 70% of the men population in the U.S. contends that whatever they do, they still could not figure out how to understand women.

For this reason, men are having a hard time to figure out what attract women sexually and romantically in a relationship. 6 out of ten men attest that women are so unpredictable that what they thought women are attracted to, they suddenly realize in the end that it is not the right things after all.

So for those who are still confused, dazed, and perplexed on what attracts women, here is a list that could serve as your guide if you want to know how to catch your girl's attention:

1. Women are not attracted to "nice guys"

There are instances wherein some guys thought that in order to attract women, they must be good looking, smells really good, dress really good, and projects a goody-two-shoes image.

What these guys do not know is that, in reality, women are more attracted to men who project "bad-boy" image rather than those who are nice. This is because most women find nice guys relatively boring and uninteresting as compared to those who are funny and confident about themselves.

Surveys show that 30% of women value personality most. Though, this does not necessarily mean that women prefer nice personalities. What women would rather have are men who have lovable personalities brought about by their sense of humor and confidence.

The point is that some clinical studies done to uncover the truth about men and women revealed that men are, generally, more concerned with their looks, while women are more into the character and the way men behave around women.

2. Women are attracted to things that cannot be initially seen by the human eye

This goes to show that innate things, those that are not constrained by physical boundaries and limitations are what really attract women. Women are more concerned with what they cannot see literally. This could refer to personality traits, behavior, and attitude.

No wonder why most women would rather date a man who has good personality even if the guy is not good looking or he does not have a car.

3. Women are more attracted to men who knows how to handle themselves quite well

The problem with most men is that they are very egoistic that they are more focused on what the public would see them.

On the contrary, women are not so much on what makes a man but rather on how man makes out of himself. For instance, women are not concerned on the physical attributes of a man but more on how the man takes care of his body.

Another example, if a particular man is rich and famous, it may hold some possible attraction between the man and a woman. However, this will not guarantee that women will opt to have the rich and famous for a relationship. If the woman will be able to perceive how this man manages his finances well, then, that is the only time the woman will pay attention to the guy.

The point here is that material things like wealth, looks, physical attributes, education, influence, power, etc., still do matter. However, it these do not necessarily mean that these things are everything that a man needs in order to be attractive to women.

The truth is that in order to attract women, men must, generally, have nice attitude and personality. It is only when men make women feel that whenever women are with them, they would feel safe and secured.

Given all that, women and men view of the concept of attraction varies considerably. This goes to show that if ever a man would like to attract a particular woman, he should set aside his own point of view and interest, and instead, try to work out in order to catch the attention of the woman.

Sayangilah Mereka


Bayangkan setiap 15 minit berlaku perceraian ... Begitulah rapuhnya rumah tangga umat Islam di Malaysia. Rumah tangga adalah benteng terakhir ummah, tempat bermulanya tapak generasi. Jika di situ sudah bermasaalah, di tempat lain tidak dapat dibayangkan lagi. Ada sahaja kisah suami yang curang, isteri yang beralih cinta. Kekadang anak telah dua, tiga dan empat... tetapi masih ingin memburu cinta. Ada yang memburu di alam nyata (menjejak semula kekasih lama atau terjumpa kekasih baru), ada yang memburu cinta di alam siber - bencinta lewat laman sosial ienternet yang serba maya.

Entah apa yang diburu oleh manusia yang hidup di dunia tanpa menyedari hari kembalinya yang pasti ke akhirat. Di mana ditekakkan Allah dalam peta cintanya sesama manusia. Suami yang ada dipersia, lelaki lain pula dicari sebagai ganti. Konon lelakinya tidak bertanggung jawab, tidak romantik, tidak pandai membelai atau apa sahaja. Berikan nama yang buruk pada anjing dan bunuh saja! Begitu kata pepatah Inggeris. Apabila hati sudah berubah, segala kebaikan dahulu dilupakan. Isteri yang di sisi sudah setia, perempuan baru pula diburu kononnya demi cinta. Segala yang buruk-buruk dibongkar, dijadikan justifikasi untuk menghalalkan cinta baru yang digilai siang dan malam.

Manusia itu seperti kelkatu yang terbang menuju sumber cahaya. Sudah ramai yang terhantuk lalu jatuh bergelimpanagan di lantai... namun kelkatu yang lain masih terus terbang menuju tempat yang sama. Tidak pernah ada yang mengambil iktibar daripada korban-korban yang telah bergelimpangan. Maka begitulah suami dan isteri yang tertipu ini, memburu cinta bagai kelkatu memburu cahaya... Tujuan tidak akan tercapai, bahkan akan terjadi kebinasaan, namun dia pergi jua. Percayalah, tidak akan ada ketenangan dan kebahagiaan di atas kesusahan, kezaliman dan penindasan terhadap orang lain. Allah benci orang zalim! Dan kebencian itu sudah cukup untuk menyebabkan penderitaan seumur hidup.

Mengapa kau zalimi anak mu, isteri atau suami mu? Apakah dosa mereka terlalu besar hingga kau tidak sudi lagi memaafkan? Apakah kau tidak menyedari bahawa pasangan mu adalah cermin kepada diri mu sendiri? Maksudnya, siapa dia ditentukan juga oleh siapa kita yang sebenarnya? Dirimu dan pasanganmu saling mencorakkan. Ketika palitan hitam kau katakan ada pada wajahnya, sedarkah engkau bahawa kau juga yang pernah melakarkannya? Jadi, bertanggung jawablah. Jangan lari. Binalah semula rumah tangga mu... kerana cinta yang ada di tanganmu kini adalah nyata, manakala yang kau buru itu mungkin hanya fotomorgana.

Bagi suami atau isteri yang ditinggalkan... sedarkan dia. Doakan dia. Berusahalah sedaya mungkin untuk 'mengembalikan' dia kepada cinta yang nyata. Namun kalau dia berdegil, biarlah dia pergi. Hidupmu terlalu singkat untuk 'dirosakkan' oleh dia seorang. Ingat dia itu bukan cinta nombor 1!

Nombor 1 Allah. Nombor 2 Rasulullah. Nombor 3, suami). Itulah turutan cinta seorang wanita bernama isteri, (jika pada lelaki, nombor 3 itu ibu, no 4 itu apa, no 5 baru isteri). Agar tidak menderita, jagalah turutan cinta ini. Yang dahulu, wajar didahulukan. Yang kemudian, mesti dikemudiankan. Jangan disusun cinta itu begini… Nombor 1 suami. Nombor 2 suami. Nombor 3 pun suami. Ini tindakan yang bakal mengundang kecewa. Teruskan membaca kiriman ini

Wednesday, June 16, 2010

INGATLAH (RENUNGAN)


Siapakah orang yang sombong?
Orang yang sombong adalah orang yang diberi penghidupan tetapi tidak mahu sujud pada yang menjadikan kehidupan itu iaitu Allah Rabbul Alamin, tuhan sekalian alam. Maka bertasbihlah segala apa yang ada di bumi dan langit pada tuhannya kecuali Jin dan manusia yang sombong diri.

Siapakah orang yang telah mati hatinya?
Orang yang telah mati hatinya adalah orang yang diberi petunjuk melalui ayat-ayat Quran dan Hadis dan cerita-cerita kebaikan namun merasa tidak ada apa-apa kesan di dalam jiwa untuk bertaubat.

Siapakah orang yang dungu kepala otaknya?
Adalah orang yang tidak mahu lakukan ibadat tapi menyangka bahawa tuhan tidak akan menyiksanya dengan kelalaian itu dan sering merasa tenang dengan kemaksiatannya.

Siapakah orang yang kuat?
Orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan kemarahannya ketika ia didalam kemarahan. Siapakah orang yang lemah? Orang yang lemah adalah orang yang melihat akan kemaksiatan di depan matanya tidak sedikit pun ada kebencian di dalam hatinya akan kemungkaran itu.

Siapakah orang yang bakhil?
Orang yang bakhil lagi kedekut adalahorang yang berat lidahnya untuk membaca selawat ke atas junjungan Rasulullah SAW.

Siapakah orang yang buta?
Orang yang buta adalah orang yang tidak mahu membaca dan meniliti akan kebesaran Al Quran dan tidak mahu mengambil pelajaran daripadanya.

Siapakah orang yang tuli?
Orang yang tuli adalah orang yang diberi nasihat dan pengajaran yang baik namun tidak diendahkannya.

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S.

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rajiun". Lalu sambil berkata "Ya Rabbi Aku rheda dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang menangis airmata mutiara?
Orang yang menangis airmata mutiara adalah orang-orang yang sedang bersendiri lalu mengingatkan akan kebesaran tuhan dan menyesal akan dosa-dosanya lalu mengalir airmatanya.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak loba akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas hati dengan nikmat yang ada dan sentiasa berebut-rebut menambahkan hartanya.

Siapakah orang yang pandai?
Orang yang pandai adalah orang yang bersiap sedia untuk hari kematiannya kerana dunia ini berusia pendek sedangkan akhirat juga kekal abadi.

Siapakah orang yang bodoh?
Orang yang bodoh adalah orang yang beria-ria berusaha sekuat tenaga untuk dunianya sedangkan akhiratnya diabaikan.

Siapakah orang yang maju dalam hidupnya?
Orang yang maju dalam hidupnya adalah orang yang sentiasa mempertingkat ilmu agamanya.

Siapakah orang mundur dalam hidupnya?
Orang yang mundur dalam hidupnya adalah orang yang tidak mempedulikan akan halal dan haramnya akan sesuatu perkara itu.

Siapakah orang yang gila itu?
Orang yang gila itu adalah orang yang tidak sembahyang kerana hanya dua syarat sahaja yang membolehkan akan seseorang itu meninggalkan sembahyang, pertama sekiranya dia haid dan kedua ketika ia tidak siuman akalnya yakni gila.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang selalu ditipu?
Orang yang selalu ditipu adalah oarang muda yang menyangka bahawa kematian itu berlaku hanya pada orang tua sahaja.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana kuburnya akan diperluaskan saujana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang yang menghuni syurga kelak kerana telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka

Friday, July 31, 2009

RENUNGAN BERSAMA


Sebuah kisah untuk renungan kita bersama.
Kereta dihentikan betul-betul di hadapan rumah. Pintu pagar automatiknya terbuka. Perlahan kereta di halakan ke dalam garaj. "Horey! Papa balik!" Kelihatan anak-anaknya berlari mengiringi keretanya.
"Tepi! Bahaya tau tak?" Jeritnya.
Anak-anak termanggu. Cahaya kegembiraan di wajah mereka pudar.
"Aimin bawa adik ke belakang." Arahnya pada anak yang sulong.
Pulangnya petang itu disambut dingin oleh anak-anak. Isterinya turut terdiam bila mendengar anak-anak mengadu tentang papa mereka.
"Papa penat. Aimin bawa adik mandi dulu. Mama siapkan minum petang. Lepas minum papa mesti nak main bola dengan kita," pujuk Laila.
Dia yang mendengar di ruang tamu hanya mendengus. Seketika kemudian terdengar hilai tawa anak-anaknya di bilik mandi. Dia bangun.
"Hah! Main air. Bil bulan ini papa kena bayar dekat seratus. Cepat! Tutup paip tu! Buka shower!" Sergahnya. Suara yang bergema mematikan tawa anak-anaknya. "Asal saya balik rumah mesti bersepak. Kain baju berselerak. Apa awak makan tidur aje ke duduk rumah?" sambungnya kembali bila isterinya terpacul di belakang pintu.
"Anak-anak pa. Diorang yang main tu. Takpe nanti mama kemas. Papa minum ye. Mama dah siapkan kat taman." Balas isterinya lembut.
"Fail saya kat depan tu mana?"
"Mama letak dalam bilik. Takut budak-budak alihkan."
"Boleh tak awak jangan usik barang-barang saya? Susah tau tak? Fail tu patutnya saya bawa meeting tengahari tadi." Rungutnya sekalipun di hati kecil mengakui kebenaran kata-kata isterinya itu. Suasana sepi kembali. Dia menarik nafas berat. Terasa begitu jauh berbeza. Dia tercari-cari riuh suara anak-anak dan wajah isterinya.
"Laila&" Keluhnya Akhirnya dia terlena di sofa.
"Saya nak ke out station minggu depan."
"Lama?" Soal Laila.
"Dalam seminggu."
"Cuti sekolah pun lama. Mama ikut boleh?"
"Budak-budak?"
"Ikut jugalah."
"Dah! Takde! Takde! Susah nanti. Macam-macam diorang buat kat sana . Tengok masa kat Legacy dulu tu&"
"Masa tu Amirul kecik lagi." Balas Laila. Wajahnya sayu. Dia masih berusaha memujuk biarpun dia tahu suaminya tak mungkin berganjak dari keputusan yang dibuat. Tak mungkin peristiwa Amirul terpecahkan pinggan di hotel dulu berulang. Anak itu masih kecil benar sewaktu ia berlaku. Lagipun apa sangatlah harganya pinggan itu malahan pihak hotel pun tak minta ganti rugi. " Bolehlah Pa ! Lama sangat kita tak ke mana-mana." "Nak jalan sangat Sabtu ni saya hantar awak balik kampung," Muktamad! Demikianlah seperti kata-katanya. Anak-anak dan isterinya dihantar ke kampung. Laila tak merungut apa-apa meskipun dia tahu isterinya berkecil hati. Anak-anak terlompat riang sebaik kereta berhenti di pengkarangan rumah nenek mereka. Tak sampai setengah jam dia telah bergegas semula untuk pulang. Bapa mertuanya membekalkan sebuah kitab lama.
"Cuba-cubalah baca. Kitab tu pun abah ambil dari masjid. Dari mereka bakar abah ambik bagi kamu!"
"Manalah saya ada masa.." "Takpe..pegang dulu. Kalau tak suka pulangkan balik!" Dia tersentak dari khayalannya. "Kalau tak suka pulangkan balik!" Kata-kata itu bergema di fikirannya. Dia rasa tersindir. Tahukah bapa mertuanya masalah yang melanda rumahtangganya itu? Bukan..bukan tak suka malah dia tetap sayang sekalipun Laila bukan pilihannya. Dunia akhirat Laila adalah isterinya. Cuma.. "Mizi, makan!" Panggil ibunya yang datang menemaninya sejak seminggu lalu. "Jangan ikutkan hati. Yang sudah tu sudahlah." "Papa! Makan!" Jerit Aiman ,anak keduanya sambil tersengih-sengih mendapatkan dirinya. "Tak boleh panggil papa elok-elok. Ingat papa ni pekak ke?"
Aiman menggaru kepalanya yang tak gatal. Pelik! Kenapa papanya tiba-tiba saja marah. Dia berpatah semula ke dapur.
"Awak masak apa?"
"Mama masak sup tulang dengan sambal udang!" jawab Amirul memotong sebelum sempat mamanya membuka mulut.
"Takde benda lain ke awak boleh masak? Dah saya tak nak makan. Hilang selera!"
"Papa nak ke mana?" Soal isterinya perlahan.
"Keluar!"
"Mama dah masak Pa!"
"Awak saja makan!"
"Takpe Aiman boleh habiskan. Cepatlah ma!"
Laila tahu Aiman hanya memujuk. Anak keduanya itu sudah pandai mengambil hatinya. Aimin tersandar di kerusi makan. Sekadar memerhati langkah papanya keluar dari ruang makan. "Kenapa sekarang ni papa selalu marah-marah ma?" Soal Aimin sambil menarik pinggannya yang telah berisi nasi. "Papa banyak kerja agaknya. Dah! Makan." "Abang tak suka tengok papa marah-marah.." "Adik pun sama. Bila papa marah muka dia macam gorilla kan ?"
Kata-kata Aiman disambut tawa oleh abang-abangnya yang lain. Laila menjeling. Di hati kecilnya turut terguris Besar sangatkah dosanya hingga menjamah nasi pun tidak. Kalau ada pun salahnya, apa?
Syamizi menjengah ke ruang dapur. Kosong.
"Laila.." serunya
"Sudahlah tu Mizi! Jangan diingat-ingat. Kerja Tuhan ni tak dapat kita tolak-tolak. Bawak-bawaklah beristighfar. Kalau terus macam ni sakit kau nanti."
Kata ibunya yang muncul tiba-tiba.
"Sunyi pulak rumah ni mak,"
"Lama-lama kau biasalah."
Airmatanya menitis laju. "Kalau tak suka pulangkan!" Dia rasa terhukum. Hampir segenap saat kata-kata itu bergema di sekitarnya. Dia rasa terluka. Kehilangan yang amat sangat.
"Papa beli apa untuk Aiman?" Soal Aiman sebaik dia pulang dari outstationnya.
"Beli apa pulak? Barang permainan kan bersepah dalam bilik belakang tu."
"Tak ada lah?"
"Ingat papa ni cop duit?"
Aiman termanggu. Dia berlalu mencari mamanya di dapur. Seketika kemudian rumah kembali riuh dengan telatah anak-anak lelakinya yang bertiga itu mengiringi mama mereka yang sedang menatang dulang berisi hidangan minum petang.
Wajah Laila direnungnya. Ada kelainan pada raut itu. Riaknya tenang tapi ada sesuatu yang sukar ditafsirkannya. "Awak tak sihat ke?"
Laila tersenyum. Tangannya pantas menuang air ke cawan.
"Papa, tak lama lagi abang dapat adik lagi." Aimin mencelah di antara perbualan kedua ibu bapanya.
Shamizi tersenyum. Jemari isterinya digenggam erat. Tiba-tiba cawan berisi kopi yang masih panas terjatuh dan pecah di lantai. Aiman tercegat.
"Tengok! Ada saja yang kamu buat. Cuba duduk baik-baik. Kalau air tu tak tumpah tak sah!" Tempiknya membuatkan anak itu tertunduk ketakutan. Baju mamanya dipegang kejap.
Lengan Aiman dipegangnya kuat hingga anak kecil itu mula menangis. Pantas saja akhbar di tangannya hinggap ke kepala anaknya itu. Laila cuba menghalang tapi dia pantas dulu menolak isterinya ke tepi. Aiman di pukul lagi. Amirul menangis. Aimin mendapatkan mamanya.
"Perangai macam beruk! Tak pernah buat orang senang!"
Laila bangun dari jatuhnya dan menarik lembut Aiman ke dalam pelukkannya. Airmata mereka bersatu. Pilu sungguh hatinya melihat kekasaran suaminya terhadap anak-anak.
"Cukuplah pa. Papa dah hukum pun dia tapi janganlah sebut yang bukan-bukan." Ujar Laila perlahan
"Macamana awak didik budak-budak sampai macam ni teruk perangainya? Tengok anak orang lain ada macam ni? Anak kak Long tu tak pulak macam ni. Panjat sana , kecah barang. Gila apa?" Omelnya kembali.
Shamizi meraut wajah. Bukan kepalang salahnya pada Aiman. Padanya anak itu tak pernah dapat memuaskan hatinya. Ada saja salah Aiman di matanya. Ada saja yang kurang di hatinya terhadap anak-anak dan isteri. Tak cukup dengan perbuatan malah dia begitu mudah melemparkan kata-kata yang bukan-bukan terhadap mereka.
"Tak boleh ke kamu semua senyap? Dalam sehari ni boleh tak diam? Rimas betul duduk dalam rumah ni." Laila menyuruh anak-anaknya bermain di halaman belakang rumah. Memberi sedikit ruang buat suaminya menonton dengan tenang. Malangnya tak lama kemudian kedengaran bunyi tingkap kaca pecah. "Celaka betul!" Sumpahnya sambil menghempaskan akhbar ke meja. "Abang!"
"Baik awak tengok anak-anak awak tu sebelum saya hambat dengan rotan! Perangai satu-satu macam tak siuman!" Getusnya kasar.
Akhirnya tingkap yang pecah kembali diganti. Cerita sumpah seranahnya petang itu hilang begitu saja. Laila berubah. Sikapnya yang pendiam menjadi semakin pendiam. Anak-anak juga sedikit menjauh. Tak ada lagi cerita Amirul di tadika. Tak ada lagi kisah Aimin yang cemerlang di dalam sukan sekolahnya. Aiman juga tak lagi mahu memanggilnya makan.
Shamizi terasa puas hati. Barangkali itu saja caranya untuk memberi sedikit pengajaran pada anak-anak.
"Pak Ngah, Eddie nak balik!" Shamizi terpana. Dia mengangguk. "Kak Long balik dulu Mizi. Sudahlah! Kamu muda lagi. Cari pengganti." Alangkah mudahnya. Kalaulah dia boleh bertemu lagi yang serupa seperti Laila. Laila tak ada yang kurang Cuma dia yang tak pernah puas hati. Laila tak pernah merungut. Laila tak pernah membantah. Sepanjang usia perkahwinan mereka Laila tak pernah meminta lebih dari apa yang dia beri. Laila cuma dapat gred B walaupun dia teramat layak untuk mendapat gred yang lebih baik dari A. "Laila&" "Papa nak ke mana hensem-hensem gini?" Dia tersenyum sambil menjeling ke cermin meninjau bayang isterinya yang kian sarat. "Wangi-wangi lagi. Dating ye?"
"Saya ada makan malam di rumah bos besar. Dia buat makan-makan untuk staff." Ujarnya masih leka membetulkan kolar kemeja batiknya.
"Ikut boleh?"
"Dia tak ajak family. Staff only!" Terangnya sedangkan difikirannya terfikir lain. Kali ni dia akan pergi ke jamuan tu dengan Helmi. Helmi akan turut menumpangkan Maria dan Harlina. Staff yang masih muda dan bujang.
"Dalam setahun papa selalu ke jamuan office tapi tak pernah pun bawak kami."
"Leceh kalau ada budak-budak. Bukan tau duduk diam Lari sana sini, panjat itu ini. "
"Papa pesanlah.."
"Nantilah besar sikit." Dalihnya.
"Kalau tunggu besar takut takde peluang. Nanti diorang tu dah tak nak ikut pergi mana pun."
"Lagi senang. Saya kalau lasak-lasak ni buat hati panas je,"
Laila terdiam. "Namanya budak-budak. Anak-anak papa tu lelaki."
"Saya pergi kejap je. Lepas tu terus balik." "Mama tanya sikit boleh?" Dia mengangguk "Bos tak pelawa atau papa malu nak bawa mama dan anak-anak?"

Mereka dia tinggalkan di rumah. Di jamuan tu ramai staff yang membawa keluarga mereka bersama. Pada Shamizi dia mahukan keselesaan sedangkan hakikatnya anak-anak staff yang lain lebih lasak dan nakal. Semeja hidangan untuk anak-anak staff berderai bila ada yang bermain tarik-tarik alas kainnya.
"Never mind. Budak-budak memang macam tu. Kalau tak lasak tak cerdik," ujar Mr. Kwai, tuan rumah.
Shamizi sedikit mengakui kebenaran kata-kata itu. Anak-anaknya pun nakal tapi amat membanggakan dalam pelajaran. Namun dia rasa serba tak kena bila bersama mereka. Bimbang ada yang menyata yang bukan-bukan tentang anak-anaknya yang lasak apatah lagi tentang isterinya Laila. Bimbang dimalukan dengan perangai anak-anaknya. Bimbang jika dikatakan Laila tidak sepadan dengan dirinya. Dia lulusan luar negara sedang Laila cuma perempuan kampung. Tak pandai bergaya seperti staff wanita yang lain. Betullah jangkaan Laila, dia malu untuk memperkenalkan isteri dan anak-anaknya pada rakan-rakan.
"Kalau tak suka pulangkan!" Kata-kata itu semakin keras di fikirannya. Pagi itu anak-anak sekali lagi dimaki sebelum ke sekolah. Semata-mata bila Aimin dan Aiman bergelut berebutkan tempat duduk di meja makan menyebabkan air cuci tangan tumpah ke meja. Berangnya tiba-tiba menguasai diri. Kepala kedua-duanya di lagakan sedangkan perebutan itu tidak pula disusuli dengan perkelahian. "Kamu semua ni..kalau macam ni daripada ada elok tak ada. Menyusahkan!" Laila merenungnya dalam.. Matanya berkaca dan anak-anak ke sekolah tanpa menyalaminya seperti selalu. Laila juga tidak berkata apa-apa sebelum menghidupkan enjin untuk menghantar anak-anak ke sekolah. Shamizi dapat melihat Laila mengesat airmatanya. 

Dia terus menghadapi sarapannya. Sejenak dia terpandang hidangan untuk anak-anak yang tak bersentuh. Susu masih penuh di cawan. Roti telur yang menjadi kesukaan anak-anak juga tidak dijamah. Bekal di dalam bekas tidak diambil. Pelik! Selama ini Laila tak pernah lupa.. "Kalau tak suka pulangkan,"
Kali ini dia benar-benar menangis. Laila dan anak-anak terus tak pulang selepas pagi itu. Hari-harinya tak lagi diganggu dengan gelagat anak-anak. Rumah terus sunyi dan sepi. Tetap dia tak dapat tidur dengan lena. Di halaman belakang hanya ada kenangan. Kelibat anak-anaknya bergumpal dan berlari mengejar bola tak lagi kelihatan. Riuh anak-anak bila mandi di bilik air juga tidak lagi kedengaran. Dia mula dihambat rindu. Hanya ada kesunyian di mana-mana. Hanya tinggal bola yang terselit di rumpun bunga.
Selaut rindu mula menghambat pantai hatinya. Laila, Benarlah, kita hanya tahu harganya bila kita kehilangannya.

Laila terus tak pulang sekalipun dia berjanji untuk berubah. Laila pergi membawa anak-anaknya pagi itu bila kereta mereka dirempuh sebuah kereta lain yang dipandu laju. Laila pergi tanpa meninggalkan satu pun untuknya. Laila pergi membawa Aimin, Aiman, Amirul dan zuriat yang bakal dilahirkan dua bulan lagi..
Dia menangis semahu-mahunya bila menatap wajah lesi anak-anak dan isterinya. Dia meraung memeluk tubuh Laila yang berlumuran darah. Hakikatnya Laila adalah kitab lama itu, lapuk bagaimana pun dipandangan harganya tak terbanding, dan kerana keengganannya Laila dipulangkan.

Moral: Hargai mereka yang berada disisi anda selagi mereka masih ada

Friday, February 29, 2008

RENUNGAN


Easy is to get a place is someone's address book.
Difficult is to get a place in someone's heart.

Easy is to judge the mistakes of others
Difficult is to recognize our own mistakes

Easy is to talk without thinking
Difficult is to refrain the tongue

Easy is to hurt someone who loves us.
Difficult is to heal the wound...

Easy is to forgive others
Difficult is to ask for forgiveness

Easy is to set rules.
Difficult is to follow them...

Easy is to dream every night.
Difficult is to fight for a dream...

Easy is to show victory.
Difficult is to assume defeat with dignity...

Easy is to admire a full moon.
Difficult to see the other side...

Easy is to stumble with a stone.
Difficult is to get up...

Easy is to enjoy life every day.
Difficult to give its real value...

Easy is to promise something to someone.
Difficult is to fulfill that promise...

Easy is to say we love.
Difficult is to show it every day...

Easy is to criticize others.
Difficult is to improve oneself...

Easy is to make mistakes.
Difficult is to learn from them...

Easy is to weep for a lost love.
Difficult is to take care of it so not to lose it.

Easy is to think about improving.
Difficult is to stop thinking it and put it into action...

Easy is to think badly of others
Difficult is to give them the benefit of the doubt...

Easy is to receive
Difficult is to give

Easy to read this
Difficult to follow

Easy is keep the friendship with words
Difficult is to keep it with MEANING